Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan dapat mencapai lebih dari satu kilometer, terutama di titik sempit dekat area pasar dan pertigaan menuju Tanah Merah. Kondisi tersebut diperparah oleh padatnya aktivitas kendaraan besar serta keluar-masuk kendaraan dari kawasan sekolah dan perkampungan sekitar.
“Setiap pagi macetnya luar biasa. Bisa setengah jam lebih untuk menempuh jarak yang seharusnya hanya lima menit,” ujar Sutrisno (38), warga Desa Kayu Agung, saat ditemui di lokasi.
Warga dan pengendara yang melintas menilai, pelebaran jalan menjadi solusi utama untuk mengatasi kemacetan. Menurut mereka, lebar jalan yang hanya sekitar 5–6 meter tidak lagi memadai untuk menampung volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Kalau jalan ini bisa dilebarkan, arus lalu lintas pasti lebih lancar. Sekarang jalannya sempit, dua mobil saja sudah susah papasan,” tambah Nuraini (42), pedagang di sekitar Tanah Merah.
Menanggapi keluhan warga, sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan warga Sepatan berencana mengajukan usulan resmi kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang agar proyek pelebaran jalan segera direalisasikan. Selain pelebaran, warga juga berharap adanya perbaikan drainase dan penataan pedagang kaki lima yang dinilai turut mempersempit badan jalan.
“Kami akan sampaikan aspirasi masyarakat ini ke dinas terkait. Jalan Raya Sepatan–Tanah Merah merupakan akses vital bagi warga dan roda perekonomian lokal,” ujar salah satu warga Pondok Jaya, Kecamatan Sepatan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Tangerang terkait rencana pelebaran jalan tersebut. Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar kemacetan tidak semakin parah dan berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
(Red/kjk)

0Komentar